Kamis, 12 Desember 2013

HIKMAH KISAH DARI BAPAK, ANAK, DAN KELEDAI




Aku pernah mendengar kisah jaman Nabi dulu, tentang seorang bapak, anak dan keledainya. Kisah ini menceritakan tentang seorang lelaki tua bersama anaknya yang masih kecil yang anak menjual seekor keledai. Binatang ini mirip dengan kuda, hanya saja bentuknya lebih kecil dari kuda.           
Jarak pasar dengan kampungnya jauh, dan melewati beberapa kampung. Saat perjalanan ke pasar, sang bapak menaiki keledai itu, sementara anaknya berjalan kaki sambil menuntun keledainya dari samping menyusuri jalan kampung yang ramai dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Namun baru beberapa langkah keledai itu berjalan, ada seseorang yang berkata : “Betapa teganya orang tua ini. Dia naik keledai sementara anaknya yang masih kecil dibiarkan berjalan kaki”.
Setelah mendengar ucapan itu, sang bapak turun kemudian meminta anaknya menaiki keledai itu, sementara sang bapak berjalan sambil menuntun keledai tersebut. Sesampainya di kampung lain ada yang berkata lagi : “Alangkah tidak sopannya anak ini, dia enak-enakan naik keledai, sementara ayahnya hanya berjalan kaki.”
Karena ada ucapan seperti itu, maka sang bapak berkata kepada anaknya : “ Turunlah nak, kita berdua berjalan kaki saja “. Kemudian mereka berdua berjalan kaki sambil sang bapak menuntun keledainya. Namun ketika mereka melewati kampung yang lain , ada orang yang berkata lagi : “Mengapa kalian berdua tidak memanfaatkan keledai itu, untuk apa kalian berjalan kaki jika ada keledai yang bisa kalian naiki.”
Sang bapak kemudian menghentikan keledainya setelah mendengar perkataan orang itu dan berkata kepada anaknya : ” Apa yang telah kita lakukan salah lagi kita nak. Ya sudah, kita naiki saja berdua “. Kemudian mereka berdua menaiki keledai itu bersama-sama, namun sesampainya di kampung yang lain , tetap saja ada orang yang protes dan berkata : “Kasihan, keledai sekecil itu dinaiki oleh dua orang.”
Sang bapak berkata lagi kepada anaknya : “ Kita dikatakan salah lagi nak. Kalau begitu harus kita apakan keledai ini?”. Sang bapak kemudian berkata lagi : “ Sudahlah nak, apapun yang akan kita lakukan pasti akan tetap salah menurut mereka. Sekarang kita pikul saja keledai ini dan biarkan nanti kalau ada orang yang mau berkata apa, terserah dan jangan kita dengarkan lagi “. Akhirnya mereka seperti orang gila, karena keledainya mereka pikul bersama.




Pesan Hikmah Dari Kisah Ini:

1. Belajar Sabar

Sesungguhnya kita tidak terlepas dari pembicaraan orang. Apapun yang kita lakukan walau itu benar mungkin saja dianggap salah. Tak akan ada habisnya jika kita memikirkan bagaimana pandangan orang lain terhadap apa yang kita lakukan karena orang lain akan selalu menemukan celah untuk dijadikan bahan pembicaraan.

Dalam hidup ini kadangkala ada orang yang tidak senang atau tidak suka dengan kita. Ketidaksukaan itu seringkali ditunjukkan dengan mengejek dan menghina. Seorang muslim harus sabar agar tidak menuruti keburukan mereka dengan membalas kemarahan yang berlebihan.

" Maka sabarlah engkau ( Muhammad ) atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Rabb - Mu sebelum matahari terbit, dan sebelum terbenam, dan bertasbihlah ( pula ) pada waktu tengah malam dan diujung siang hari, agar engkau merasa tenang" ( QS. Thaha : 130 ).


2. Belajar Istiqamah

Dari kisah ini pula kita belajar tentang istiqamah ( memiliki pendirian yang kuat dalam memegang prinsip kebenaran ), karena dengannya seorang muslim tidak dilanda perasaan takut untuk membuktikan nilai kebenaran dan tidak berduka cita bila mengalami resiko yang tidak menyenangkan.

3.Belajar Ikhlas

Yakni setiap melakukan amal kebajikan baik perkataan maupun perbuatan ditujukan hanya kepada Allah semata. Jika kita memiliki jiwa yang ikhlas kita tidak dibelenggu oleh pengharapan akan pujian dan penghargaan juga tidak takut apabila menuai celaan dan cemoohan.


4. Belajar Tawakal

Seorang muslim haruslah memegang prinsip kebenaran dan menyerahkan segalanya hanya kepada Allah. Hal ini telah ditekankan oleh Allah kepada Nabi Muhammad seperti dalam firmannya:
"Wahai Nabi! Bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau menuruti ( keinginan ) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui , Maha Bijaksana, dan ikutilah apa yang diwahyukan Rabb-Mu kepadamu. Sungguh Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan, dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pemelihara. " ( Al- Ahzab : 1-3 ).


Aku akan fokus pada hikmah kedua, yaitu istiqomah, kita manusia harus mempunyai komitmen, mempunyai pendirian dan prinsip yang kuat. Aku bukannya untuk mengajak ber su’udzon, keras kepala atau cuek. Tetapi aku hanya ingin sekedar sharing tentang hal ini.
Bayangkan saja, jika kita melakukan sesuatu yang menurut kita benar, tetapi karena kita tidak mempunyai pendirian yang kuat, maka kita justru terlihat “bodoh” dan plin plan. Aku sendiri pernah, bahkan sering mendapat banyak kritik sana sini, saya kira memang tak ada kritik yang membangun, kritik hanyalah ungkapan kekurangan atau kejelekan bahkan kebodohan kita yang tidak pasti itu benar adanya. Kritik justru akan membuat kita minder, bingung, bahkan “galau” karena hal – hal sepele. Gak banget kan ??
Okelah kita memang di tuntut menjadi pribadi yang cerdas, tidak semua kata orang itu kita lakukan, kita punya hak untuk melakukan hal yang menurut kita baik untuk kita. Menurutku, tak ada seorangpun di dunia ini yang bisa mengatur hidup kita, tapi bukan dengan arti kita melakukan hal dengan sesuka hati, sewenang-wenang, bahkan merugikan orang lain. Ingat, ini berhubungan dengan hidup kita bukan orang lain. Maka egois, keras kepala dan cuek juga tidak diperkenankan.
Tidak ada manusia yang sempurna, okeee. . yang sempurna hanya milik Allah SWT, kita yakini itu sebagai umat islam. Allah memerintahkan kita untuk istiqomah, bersungguh-sungguh dengan apa yang kita lakukan. Contohnya, saat kita jadi pemimpin. Eits jangan salah, kita semua ini pemimpin, bukan hanya ketua RT, RW, Bupati, gubernur, presiden yang bisa di sebut pemimpin itu. Setidaknya kita pemimpin untuk diri sendiri, dan setiap pemimpin akan di minta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Nahlo...?
Kita masuk ke kisah yang tadi, coba deh kalo bapak itu punya pendirian, tak mungkin mendengarkan kata orang, tak mungkin melakukan apa yang setiap orang katakan. Maka mereka tak akan terlihat bodoh.
Ayo teman-teman, jadilah diri sendiri, tetap teguh dalam pendirian kalian, fokus dalam melakukan sesuatu dan tetap semangat untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar