Namun
baru beberapa langkah keledai itu berjalan, ada seseorang yang berkata : “Betapa
teganya orang tua ini. Dia naik keledai sementara anaknya yang masih kecil
dibiarkan berjalan kaki”.
Setelah
mendengar ucapan itu, sang bapak turun kemudian meminta anaknya menaiki keledai
itu, sementara sang bapak berjalan sambil menuntun keledai tersebut.
Sesampainya di kampung lain ada yang berkata lagi : “Alangkah tidak sopannya
anak ini, dia enak-enakan naik keledai, sementara ayahnya hanya berjalan kaki.”
Karena
ada ucapan seperti itu, maka sang bapak berkata kepada anaknya : “ Turunlah
nak, kita berdua berjalan kaki saja “. Kemudian mereka berdua berjalan kaki
sambil sang bapak menuntun keledainya. Namun ketika mereka melewati kampung
yang lain , ada orang yang berkata lagi : “Mengapa kalian berdua tidak
memanfaatkan keledai itu, untuk apa kalian berjalan kaki jika ada keledai yang
bisa kalian naiki.”
Sang
bapak kemudian menghentikan keledainya setelah mendengar perkataan orang itu
dan berkata kepada anaknya : ” Apa yang telah kita lakukan salah lagi kita nak.
Ya sudah, kita naiki saja berdua “. Kemudian mereka berdua menaiki keledai itu
bersama-sama, namun sesampainya di kampung yang lain , tetap saja ada orang
yang protes dan berkata : “Kasihan, keledai sekecil itu dinaiki oleh dua
orang.”
Sang
bapak berkata lagi kepada anaknya : “ Kita dikatakan salah lagi nak. Kalau
begitu harus kita apakan keledai ini?”. Sang bapak kemudian berkata lagi : “
Sudahlah nak, apapun yang akan kita lakukan pasti akan tetap salah menurut
mereka. Sekarang kita pikul saja keledai ini dan biarkan nanti kalau ada orang
yang mau berkata apa, terserah dan jangan kita dengarkan lagi “. Akhirnya
mereka seperti orang gila, karena keledainya mereka pikul bersama.
Pesan Hikmah Dari Kisah Ini:
1. Belajar Sabar
Sesungguhnya
kita tidak terlepas dari pembicaraan orang. Apapun yang kita lakukan walau itu
benar mungkin saja dianggap salah. Tak akan ada habisnya jika kita memikirkan
bagaimana pandangan orang lain terhadap apa yang kita lakukan karena orang lain
akan selalu menemukan celah untuk dijadikan bahan pembicaraan.
Dalam hidup ini kadangkala ada orang yang tidak senang atau tidak suka dengan kita. Ketidaksukaan itu seringkali ditunjukkan dengan mengejek dan menghina. Seorang muslim harus sabar agar tidak menuruti keburukan mereka dengan membalas kemarahan yang berlebihan.
" Maka sabarlah engkau ( Muhammad ) atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Rabb - Mu sebelum matahari terbit, dan sebelum terbenam, dan bertasbihlah ( pula ) pada waktu tengah malam dan diujung siang hari, agar engkau merasa tenang" ( QS. Thaha : 130 ).
2.
Belajar Istiqamah
Dari
kisah ini pula kita belajar tentang istiqamah ( memiliki pendirian yang kuat
dalam memegang prinsip kebenaran ), karena dengannya seorang muslim tidak
dilanda perasaan takut untuk membuktikan nilai kebenaran dan tidak berduka cita
bila mengalami resiko yang tidak menyenangkan.
3.Belajar Ikhlas
Yakni
setiap melakukan amal kebajikan baik perkataan maupun perbuatan ditujukan hanya
kepada Allah semata. Jika kita memiliki jiwa yang ikhlas kita tidak dibelenggu
oleh pengharapan akan pujian dan penghargaan juga tidak takut apabila menuai
celaan dan cemoohan.
4. Belajar Tawakal
4. Belajar Tawakal
Seorang
muslim haruslah memegang prinsip kebenaran dan menyerahkan segalanya hanya
kepada Allah. Hal ini telah ditekankan oleh Allah kepada Nabi Muhammad seperti
dalam firmannya:
"Wahai Nabi! Bertakwalah kepada Allah dan
janganlah engkau menuruti ( keinginan ) orang-orang kafir dan orang-orang
munafik. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui , Maha Bijaksana, dan ikutilah apa
yang diwahyukan Rabb-Mu kepadamu. Sungguh Allah Maha Teliti terhadap apa yang
kamu kerjakan, dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai
pemelihara. " ( Al- Ahzab : 1-3 ).
Aku
akan fokus pada hikmah kedua, yaitu istiqomah, kita manusia harus mempunyai
komitmen, mempunyai pendirian dan prinsip yang kuat. Aku bukannya untuk
mengajak ber su’udzon, keras kepala atau cuek. Tetapi aku hanya ingin sekedar
sharing tentang hal ini.
Bayangkan
saja, jika kita melakukan sesuatu yang menurut kita benar, tetapi karena kita
tidak mempunyai pendirian yang kuat, maka kita justru terlihat “bodoh” dan plin
plan. Aku sendiri pernah, bahkan sering mendapat banyak kritik sana sini, saya
kira memang tak ada kritik yang membangun, kritik hanyalah ungkapan kekurangan
atau kejelekan bahkan kebodohan kita yang tidak pasti itu benar adanya. Kritik
justru akan membuat kita minder, bingung, bahkan “galau” karena hal – hal sepele.
Gak banget kan ??
Okelah
kita memang di tuntut menjadi pribadi yang cerdas, tidak semua kata orang itu
kita lakukan, kita punya hak untuk melakukan hal yang menurut kita baik untuk
kita. Menurutku, tak ada seorangpun di dunia ini yang bisa mengatur hidup kita,
tapi bukan dengan arti kita melakukan hal dengan sesuka hati, sewenang-wenang,
bahkan merugikan orang lain. Ingat, ini berhubungan dengan hidup kita bukan
orang lain. Maka egois, keras kepala dan cuek juga tidak diperkenankan.
Tidak
ada manusia yang sempurna, okeee. . yang sempurna hanya milik Allah SWT, kita
yakini itu sebagai umat islam. Allah memerintahkan kita untuk istiqomah,
bersungguh-sungguh dengan apa yang kita lakukan. Contohnya, saat kita jadi
pemimpin. Eits jangan salah, kita semua ini pemimpin, bukan hanya ketua RT, RW,
Bupati, gubernur, presiden yang bisa di sebut pemimpin itu. Setidaknya kita
pemimpin untuk diri sendiri, dan setiap pemimpin akan di minta
pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Nahlo...?
Kita
masuk ke kisah yang tadi, coba deh kalo bapak itu punya pendirian, tak mungkin
mendengarkan kata orang, tak mungkin melakukan apa yang setiap orang katakan.
Maka mereka tak akan terlihat bodoh.
Ayo
teman-teman, jadilah diri sendiri, tetap teguh dalam pendirian kalian, fokus
dalam melakukan sesuatu dan tetap semangat untuk menjadi manusia yang lebih
baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar