Rabu, 07 Januari 2015

MENGATASI MATA LELAH




Mungkin teman – sering mengalami yang namanya mata lelah selama sekolah, kuliah ataupun bekerja. Seringkali karna kita terlalu fokus dengan 1 obyek, misalnya komputer atau layar TV. Ini bisa menyebabkan mata lelah. Bisa juga ya,, ternyata mata kita ini lelah dan perlu diperistirahatkan sejenak,, biar gak ngambek :-P
Ehem,, ini dia tips cara mengatasi mata lelah :

  1. Pejamkan mata selama 15 menit, tekan mata dengan jari lalu buka mata selebar mungkin.
  2. Pejamkan mata lalu kedip-kedipkan beberapa kali
  3. Pusatkan perhatian pada sebuah obyek terdekat.
  4. Gerakkan mata ke kiri, kanan, lalu depan, lakukan beberapa kali.
  5. Angkat alis setinggi mungkin, letakkan jari telunjuk ke alis tepat pada tulang sudut mata dan posisi mata terbuka.
  6. Tutup mata rapat – rapat sambil tetap menekan, biarkan beberapa saat lalu buka dan lepaskan jari dari alis.
Mudah ya temans,, selamat mencoba !! Semoga bermanfaat,, bukankah ilmu yang bermanfaat itu salah satu yang akan dihisab pertama kali saat kita meninggal nanti :) ayo.. kita selalu berbagi ilmu..
Sumber : Majalah Perkawinan, 2005

Kamis, 27 Maret 2014

Peran orang tua



Saya pernah mempunyai pengalaman yang sangat mengejutkan. Ada seorang ibu dari keluarga kaya, terpandang. Beliau adalah terlahir dari keluarga yang taat beribadah dan berpendidikan tinggi. Beliau mempunyai anak yang masih Balita, sekolah di TK. Beliau mengajak anaknya di suatu swalayan, beliau membeli es krim dan permen, “Ma, di buang dimana bungkusnya?” tanya anak kecil itu. “Di parit dekat situ aja kak!”jawab ibu itu sambil tetap melihat HP nya. Saya kaget tak menyangka, padahal di samping rumah ada tempat sampah. Saya mendekati, “Adek, buangnya di sini ya! Ini dekat kakak ada tempat sampah!. Tetapi dia tetap membuangnya di parit. Alhasil saya memungut sampah itu dan membuang ke tempat sampah. “Dek, besok lagi kalo mau buang sampah di tempatnya ya, kalo buangnya di parit nanti banjir loh.” Pintaku. Anak dan ibu tadi tidak mengatakan sepatah katapun. Belum sampai di situ, setelah beberapa menit masih dengan ibu dan anak yang sama, “Ma, pengen pipis” pinta anak lelaki itu. Tak berapa lama beliau menggandeng anaknya dan membuka celana di dekat sebuah parit di dekat rumah (tempat membuang sampah tadi). Saat itu sedang ada acara, dan otomatis banyak orang. Saya yang melihat kejadian itu terheran – heran. “Pipis di sini aja ya kak!” Anak itu tanpa rasa malu BAK di situ.
Saya tak habis pikir, bagaimana bisa seorang Ibu dari keluarga terpelajar, terdidik dan kaya, tetapi mendidik anaknya dengan cara seperti itu? Bukankah usia segitu adalah saat dimana orang tua membentuk kebiasaan yang baik. Memory otak anak akan menyimpannya, sekalipun pendidikan dari keluarga seperti itu. Saya tidak bisa membayangkan, jika anak itu sudah besar akankah mempunyai rasa malu untuk mempertontonkan (maaf) alat kelaminnya? Dengan pipis sembarangan seperti itu? Akankah anak itu akan sadar dengan kebersihan lingkungan? sedangkan orang tuanya tidak memberi contoh yang baik untuk dia? Na’udzubillah. .
Pendidikan seperti apa yang seharusnya orang tua berikan untuk anaknya? Tentunya kebiasaan, rasa tanggungjawab, tenggangrasa, membangun karakter yang berkualitas, peduli, empati, dll.
Menurut saya, pendidikan karakter di dalam sebuah keluarga akan membentuk pribadi seorang anak yang seperti apa? itu tergantung dari peran kedua orang tua. Yah . . saya rasa memang harus dari keluarga terlebih dahulu. Setelah itu, terbentuk dari lingkungan tempat tinggal, sekolah dan teman bermainnya. Ini bisa menjadi pelajaran kita semua. Sekian ^_^

Jumat, 27 Desember 2013

MBAK BIDAN, BUKAN BU BIDAN

Add caption


Diangkat dari cerita temanku sesama alumni kuliah, kami seorang bidan muda yang belum memiliki anak, alias masih gadis. Tetapi Salah satu dari kami ada yang hamil muda.
Setauku, semua bidan tentunya dipanggil “Bu Bidan”, entah itu sudah menikah atau belum menikah. Temanku yang sudah menikah dan sedang hamil muda bercerita, “Ternyata hamil itu kayak gini yah”, sambil mengelus elus perutnya yang belum membesar, ”seharusnya semua bidan tuh harus sudah merasakan hamil dan punya anak biar gak cuma teori aja yang dia bisa.”
“Ya kalo mual itu, makan sedikit sedikit tapi sering.” Kataku
“Kamu ngomong gitu sesuai teori ka, kalo prakteknya. . Masya Alloh. . pengennya makan tapi perutku menolak trus.” bantahnya.
“Iya juga sih, kalo saat ibu melahirkan gitu, kita sering bilang, sabar buukk, nafas panjang keluarkan lewat mulut.” sahut temenku yang satunya, “Kadang malah di katain, mbak bidan belum pernah ngrasain melahirkan jadi ngomong gitu, sakit mbak. . .” Sahutnya sambil memperagakannya.
“Iya jenk, aku pernah kok di tanya, Mbak sudah menikah belum? ya aku jawab belum, lalu ibunya bilang, kalo udah menikah dan punya anak pasti tau gimana rasanya melahirkan mbak. Ini sakit banget.” tambahku.
“Hahaha. . . hahaha. . “
Aku dan teman – temanku hanya tertawa dengan kisah masing – masing saat praktek dahulu.
Percakapanku dengan ketiga temanku hanya sebatas membahas seperti itu, dalam hatiku “Seharusnya mbak bidan manggilnya, biar ada perbedaan antara yang sudah ibu – ibu dan masih gadis.” :D