Memang
benar kata orang, tak kenal maka tak sayang. Aku ingin sedikit bercerita
tentang pengalamanku yang sangat berharga dan tak akan ku lupakan. Pengalaman
yang mengubah hidupku menjadi yang sekarang. Aku sadar, setiap orang mempunyai
pengalaman yang berbeda beda. Tapi
semoga pengalamanku ini bisa menjadi pelajaran kita semua.

Saat aku
mulai duduk di bangku Madrasah Aliyah Negeri di daerahku (Setara dengan SMA),
Aku mempunyai teman yang “menurut ku” super nyebelin. Dia ketua kelas di
kelasku, dia dan teman – teman memilihku menjadi wakil kelas. Yang membuatku tak
bisa menghindarinya. Masa pemilihan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) mulai
gempar di Madrasah. Dibutuhkan sekitar 5 kandidat Calon Pengurus OSIS
per-kelas. Aku sangat tidak suka organisasi dan bersosialisasi. Tapi tanpa
sepengetahuanku, sang ketua kelasku yang “sok berkuasa” menjadikanku sebagai
salah satu kandidat. Alasannya yang dia ucapkan saat itu, “Aku ingin kamu
selalu bersamaku.” Bukan senyum yang ku berikan untuk sebuah kepercayaan itu,
tapi “Itu sangat keterlaluan dan melanggar hak asasi manusia.” Dan yang lebih
buatku muak, dia menjagokan diri menjadi ketua OSIS, erlebih lagi dia MENANG .
. “PARAH” Aku jadi bawahannya lagi.
Dengan “terpaksa”
aku ikuti organisasi di Madrasah untuk pertama kalinya. Kami mengadakan
berbagai kegiatan dan event, dan aku tak pernah melewatkannya. Terlepas dari
rasa “keterpaksaanku”, Aku semakin terhanyut oleh “asyiknya” organisasi yang
aku ikuti. Nilai akademikpun bisa melonjak naik karena aku semakin bersemangat
ke Madrasah dan berjuang untuk menjadi siswi yang terbaik. Teman – teman yang
semakin banyak, semakin dikenal di Madrasah dan semakin banyak “fans”. Keikutsertaan
aku di ekskul Madrasah membuatku tambah bersemangat dan merasa menjadi “siswi berguna”
untuk Madrasah karena sering menjadi panitia.
Belum cukup
sampai disini, seorang ketua kelas itu “berulah” lagi, dia menjadikanku
kandidat pengurus mading (Majalah Dinding), gak tanggung – tanggung, dia
menjadikanku sekretaris redaksi mading dan dia menjadi ketuanya. Sebuah amanah
berat yang harus ku tannggung sampai akherat kelak. Lagi – lagi aku “terpaksa”
mengikutinya. Bukan hanya sebuah “amanah” tapi perlakuan dia yang sok berkuasa
tambah menjadi – jadi. Gebrekan demi gebrekan dia lontarkan dan semakin
membuatku tak menyukainya dan organisasi yang aku ikuti. Namun, saat mading
mulai di tempelkan dan di cetak, aku mulai merasakan manfaatnya. Aku yang hobby
menulis, bisa tersalurkan lewat puisi dan cerpen yang aku tempelkan di mading.
Aku menjadi semakin senang menulis, lagi . . lagi dan lagi . . Kebahagiaanku
lebih terpancar saat guru Bahasa Indonesia memberi komentar “cerpen anda sangat
bagus, bapak sarankan untuk mengajukan ke penerbit atau ke majalah, siapa tahu
bisa dijadikan buku atau dimuat majalah ternama, Anda bisa juga mengambil kuliah jurusan Sastra
Indonesia agar bakatnya lebih terasah.” Subhanallah. .
***
Saat aku
di kampung, aku di beri amanah lagi menjadi Ketua Umum Pimpinan Ranting
Nasyiatul Aisyiyah, sebuah Organisasi otonom anak perempuan Muhammadiyah yang
bergerak dibidang keperempuanan,
keagamaan, kemasyarakatan, dan
pendidikan. Dulu awal SMP aku sempat di tawari juga, tapi aku belum siap
untuk itu, dan saat ini aku merasa siap karena di Madrasah aku telah
mendapatkan ilmu “kepemimpinan.” Ini awalnya aku merasa tidak terpaksa
mengikuti organisasi. Walaupun ini amanah yang paling berat dalam organisasi
tapi aku yakin bisa.
***
Ada
saatnya di atas dan ada saatnya dibawah, di tengah kuatnya aku di luar, aku
sangat rapuh di dalam. Ini bukan masalah dengan orang lain, tetapi dengan
diriku sendiri, badanku mulai protes akan kegiatanku yang seabreg. Yah . . aku
sakit. Yang awalnya aku tidak pernah merasakan sakit yang amat sakit, tapi kali
ini,,iyaa... Maih ku tuntun diriku untuk menyesuaikan diri dengan hobby “baruku”,
tapi yang ada malah semakin sakit. Okeee aku memang sakit, dan waktunya
istirahat.
Periode
OSIS pun berakhir, aku kali ini sudah beda jurusan dengan si ketua kelas itu,
semangatku membawaku meraih cita-cita kecilku untuk bisa masuk di jurusan IPA.
Sangat beruntung aku bisa merasakan duduk di bangku kelas XI IPA dan hanya satu
kelas itu. Sangat beruntung . . . Namun keberuntunganku tidak pada OSIS, bukan
karena aku tidak ketrima menjadi pengurus OSIS lagi, melainkan tidak adanya
ijin dari orangtua untuk mengikuti organisasi yang menguras tenaga. Dengan alasan,
“Kamu fokus belajar.”
***
Perjalananku
di Nasyiah (Nasyiatul Aisyiyah) baru di mulai, aku yang masih belajar
berorganisasi harus bisa memimpin teman – teman untuk bersama – sama berdakwah
di jalan Allah, bukan lagi OSIS yang akhwat dan ikhwan bercampur dalam satu
organisasi. Bersama teman – teman dan mbak – mbak yang udah lebih dulu di
Nasyiah, aku menemukan banyak ilmu baru lagi di sini, ilmu yang tidak hanya
tentang keperempuanan, tetapi keislaman yang murni. Islam yang benar – benar berpedoman
dengan Al Qur’an dan hadist, bukan Islam yang masih “berbau” bid’ah, atau adat
istiadat yang ditakutkan “mendekati” syirik itu. Na’udzubillah. . .
Aku kali
ini sungguh terlena dengan organisasi ini, yang bisa membuatku menjadi wanita
yang jauh lebih baik lagi, menjadi wanita yang muslimah, yang sadar akan
kewajiban akan seorang muslimah, yang selalu berusaha belajar untuk menjadi
lebih baik, dan lebih baik lagi. Bukan untuk berorganisasi dengan “terpaksa”
tetapi dengan hati dan panggilan jiwa. Bukan untuk menggurui tetapi untuk
mengingatkan sesama umat Islam.
Sebenarnya,
dalam 6 tahun aku mengikuti berbagai macam organisasi, baik yang aku ikuti sebelum
Nasyiah dan saat sudah mengikuti Nasyiah, aku merasa semua organisasi yang aku
ikuti, memberikan aku pengalaman yang sangat berharga. Sekarang, setidaknya ada
7 organisasi yang aku ikuti. Aku sangat menikmati hari – hariku menjadi
aktifis. Perlu di garis bawahi untuk orang – orang yang salah kaprah, bahwa “Organisasi
itu tempatnya mencari uang.” Aku secara tegas dan lantang mengatakan. “Anda
Salah.” Organisasi itu tempat orang yang berjiwa sosial, yang peduli dengan
orang lain, dan salah satu cara untuk menambah pengetahuan serta pengalaman. Bukankah
pengalaman adalah guru yang terbaik ? Maka itulah pendapatku, karena ku kira
tidak ada yang boleh menyalahkan pendapat orang karena itu di lindungi Undang –
undang.
Ini bukan
cerpen, bukan juga petuah, ataupun curhatan. Tapi ini suatu goresan mungil yang
tak berharap untuk di agungkan, tak berharap untuk di jadikan inspirasi. Hanya
untuk berbagi pengalamanku dengan teman – teman, semoga kita bisa lebih
menghargai dan mensyukuri apa yang ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar