Sabtu, 07 September 2013

NASYIAH


Saat aku mulai duduk di bangku Madrasah Aliyah Negeri di daerahku (Setara dengan SMA), Aku mempunyai teman yang “menurut ku” super nyebelin. Dia ketua kelas di kelasku, dia dan teman – teman memilihku menjadi wakil kelas. Yang membuatku tak bisa menghindarinya. Masa pemilihan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) mulai gempar di Madrasah. Dibutuhkan sekitar 5 kandidat Calon Pengurus OSIS per-kelas. Aku sangat tidak suka organisasi dan bersosialisasi. Tapi tanpa sepengetahuanku, sang ketua kelasku yang “sok berkuasa” menjadikanku sebagai salah satu kandidat. Alasannya yang dia ucapkan saat itu, “Aku ingin kamu selalu bersamaku.” Bukan senyum yang ku berikan untuk sebuah kepercayaan itu, tapi “Itu sangat keterlaluan dan melanggar hak asasi manusia.” Dan yang lebih buatku muak, dia menjagokan diri menjadi ketua OSIS, erlebih lagi dia MENANG . . “PARAH” Aku jadi bawahannya lagi.
Dengan “terpaksa” aku ikuti organisasi di Madrasah untuk pertama kalinya. Kami mengadakan berbagai kegiatan dan event, dan aku tak pernah melewatkannya. Terlepas dari rasa “keterpaksaanku”, Aku semakin terhanyut oleh “asyiknya” organisasi yang aku ikuti. Nilai akademikpun bisa melonjak naik karena aku semakin bersemangat ke Madrasah dan berjuang untuk menjadi siswi yang terbaik. Teman – teman yang semakin banyak, semakin dikenal di Madrasah dan semakin banyak “fans”. Keikutsertaan aku di ekskul Madrasah membuatku tambah bersemangat dan merasa menjadi “siswi berguna” untuk Madrasah karena sering menjadi panitia.





Belum cukup sampai disini, seorang ketua kelas itu “berulah” lagi, dia menjadikanku kandidat pengurus mading (Majalah Dinding), gak tanggung – tanggung, dia menjadikanku sekretaris redaksi mading dan dia menjadi ketuanya. Sebuah amanah berat yang harus ku tannggung sampai akherat kelak. Lagi – lagi aku “terpaksa” mengikutinya. Bukan hanya sebuah “amanah” tapi perlakuan dia yang sok berkuasa tambah menjadi – jadi. Gebrekan demi gebrekan dia lontarkan dan semakin membuatku tak menyukainya dan organisasi yang aku ikuti. Namun, saat mading mulai di tempelkan dan di cetak, aku mulai merasakan manfaatnya. Aku yang hobby menulis, bisa tersalurkan lewat puisi dan cerpen yang aku tempelkan di mading. Aku menjadi semakin senang menulis, lagi . . lagi dan lagi . . Kebahagiaanku lebih terpancar saat guru Bahasa Indonesia memberi komentar “cerpen anda sangat bagus, bapak sarankan untuk mengajukan ke penerbit atau ke majalah, siapa tahu bisa dijadikan buku atau dimuat majalah ternama,  Anda bisa juga mengambil kuliah jurusan Sastra Indonesia agar bakatnya lebih terasah.” Subhanallah. .
***
Saat aku di kampung, aku di beri amanah lagi menjadi Ketua Umum Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiyah, sebuah Organisasi otonom anak perempuan Muhammadiyah yang bergerak dibidang keperempuanan, keagamaan, kemasyarakatan, dan pendidikan. Dulu awal SMP aku sempat di tawari juga, tapi aku belum siap untuk itu, dan saat ini aku merasa siap karena di Madrasah aku telah mendapatkan ilmu “kepemimpinan.” Ini awalnya aku merasa tidak terpaksa mengikuti organisasi. Walaupun ini amanah yang paling berat dalam organisasi tapi aku yakin bisa.
***
Ada saatnya di atas dan ada saatnya dibawah, di tengah kuatnya aku di luar, aku sangat rapuh di dalam. Ini bukan masalah dengan orang lain, tetapi dengan diriku sendiri, badanku mulai protes akan kegiatanku yang seabreg. Yah . . aku sakit. Yang awalnya aku tidak pernah merasakan sakit yang amat sakit, tapi kali ini,,iyaa... Maih ku tuntun diriku untuk menyesuaikan diri dengan hobby “baruku”, tapi yang ada malah semakin sakit. Okeee aku memang sakit, dan waktunya istirahat.
Periode OSIS pun berakhir, aku kali ini sudah beda jurusan dengan si ketua kelas itu, semangatku membawaku meraih cita-cita kecilku untuk bisa masuk di jurusan IPA. Sangat beruntung aku bisa merasakan duduk di bangku kelas XI IPA dan hanya satu kelas itu. Sangat beruntung . . . Namun keberuntunganku tidak pada OSIS, bukan karena aku tidak ketrima menjadi pengurus OSIS lagi, melainkan tidak adanya ijin dari orangtua untuk mengikuti organisasi yang menguras tenaga. Dengan alasan, “Kamu fokus belajar.”
***
Perjalananku di Nasyiah (Nasyiatul Aisyiyah) baru di mulai, aku yang masih belajar berorganisasi harus bisa memimpin teman – teman untuk bersama – sama berdakwah di jalan Allah, bukan lagi OSIS yang akhwat dan ikhwan bercampur dalam satu organisasi. Bersama teman – teman dan mbak – mbak yang udah lebih dulu di Nasyiah, aku menemukan banyak ilmu baru lagi di sini, ilmu yang tidak hanya tentang keperempuanan, tetapi keislaman yang murni. Islam yang benar – benar berpedoman dengan Al Qur’an dan hadist, bukan Islam yang masih “berbau” bid’ah, atau adat istiadat yang ditakutkan “mendekati” syirik itu. Na’udzubillah. . .
Aku kali ini sungguh terlena dengan organisasi ini, yang bisa membuatku menjadi wanita yang jauh lebih baik lagi, menjadi wanita yang muslimah, yang sadar akan kewajiban akan seorang muslimah, yang selalu berusaha belajar untuk menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi. Bukan untuk berorganisasi dengan “terpaksa” tetapi dengan hati dan panggilan jiwa. Bukan untuk menggurui tetapi untuk mengingatkan sesama umat Islam.
Sebenarnya, dalam 6 tahun aku mengikuti berbagai macam organisasi, baik yang aku ikuti sebelum Nasyiah dan saat sudah mengikuti Nasyiah, aku merasa semua organisasi yang aku ikuti, memberikan aku pengalaman yang sangat berharga. Sekarang, setidaknya ada 7 organisasi yang aku ikuti. Aku sangat menikmati hari – hariku menjadi aktifis. Perlu di garis bawahi untuk orang – orang yang salah kaprah, bahwa “Organisasi itu tempatnya mencari uang.” Aku secara tegas dan lantang mengatakan. “Anda Salah.” Organisasi itu tempat orang yang berjiwa sosial, yang peduli dengan orang lain, dan salah satu cara untuk menambah pengetahuan serta pengalaman. Bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik ? Maka itulah pendapatku, karena ku kira tidak ada yang boleh menyalahkan pendapat orang karena itu di lindungi Undang – undang.
Ini bukan cerpen, bukan juga petuah, ataupun curhatan. Tapi ini suatu goresan mungil yang tak berharap untuk di agungkan, tak berharap untuk di jadikan inspirasi. Hanya untuk berbagi pengalamanku dengan teman – teman, semoga kita bisa lebih menghargai dan mensyukuri apa yang ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar