Tepat
1 bulan yang lalu, tanggal 7 Juni 2013 adalah hari spesial ku. Ada seorang
lelaki yang belum lama dekat dengan ku, sedangkan sebenarnya kami ini saudara.
Tapi Allah baru mempertemukan kami baru2 ini. Lelaki itu masih pakdhe ku, yang
aku kira umurnya jauh lebih dari aku,
ternyata dia seumuran ku. Awalnya tak ada hal yang spesial tentangnya,,
Hingga
suatu malam, lelaki itu telpon dengan membawa kabar lelayu. Yang meninggal ternyata
mbah uyut ku tiri, yang tak lain mbah dia. Pas aku ke tempat mbah uyutku tiri,
aku tak tau siapa orang yang telpon ku. Aku pulang, dan pamitan dia lewat sms. Saat
hari ke 3, aku kesana lagi bersama mbak ipar dan mamyku, dan saat itu kami
sempat mengobrol. Tak ku sangka mulai dari situ, kami kenal,, dekat hingga
akhirnya aku di terima kerja, dan harus segera training ke Lamongan. Selama di
sana, kami semakin dekat, “entah sadar apa tidak, aku sedang dekat dengan
pakdhe ku. Jangan lebih dari itu, cukup,, dan cukup,, ingat aku sodaranya.” Itu
yang selalu aku katakan saat aku merasa dekat dengannya.
Aku
pulang ke Jogja, dia menawarkan diri untuk menjemputku, tak ada yang aku
pikirkan saat itu selain, “kami sodara!” Sesampainya di Jogja, hubungan kami
semakin hari semakin dekat. Semakin lama, rasa ini semakin menyiksa batinku, “aku
takut sayang dengan pakdhe ku.” Tak henti – hentinya aku berontak dengan hatiku
sendiri, sungguh sangat menyiksa.
Lambat
laun, aku mulai sadar bahwa dia menyayangiku. Aku tau dari perhatiannya,
kepeduliannya, tingkah lakunya, dan karena “feeling.” Taukah apa yang aku
rasakan? “takut!” Yah, takut jika rasa ini semakin tumbuh, rasa yang seharusnya
tak ada “menurutku.” Maka aku putuskan untuk bilang “STOOPP!!” aku keras dengan
diriku sendiri, aku tak ingin sakit hati lagi,, luka karena mereka yang telah
meninggalkan ku belum sembuh,, ku masih trauma akan kesakitan yang amat sangat
aku rasakan pekan lalu. Namun, aku tak bisa membohongi diriku sendiri, bahwa
aku juga menyayanginya. Terlepas kalau kami sodara tiri. Tapi, aku tak mau ber
pacaran, aku tak mau sakit hati ‘tuk kesekian kalinya.
Tak
lama, hari spesial itu datang, hari dimana dia mengutarakan perasaannya
kepadaku, “sudah ku duga,” awalnya dia cerita tantang hubungan sodara kami yang
memang tiri. Aku sempat berubah fikiran saat itu, tapi tak hanya itu, ternyata
dia berkata “bismillahirrahmanirrahim, apakah kamu mau aku ajak ta’aruf an,
untuk InsyaAllah menjadi istriku?” Kaget, senang, takut, bingung, campur
menjadi satu. Tak ku sangka, kalau dia bakal meminta hal yang tidak aku
pikirkan sama sekali. Masak, lelaki semuda dia telah berfikir untuk meminang
seorang wanita? Aku kira dia telah jauh lebih dewasa dibandingkan umurnya.Aku
tak mau berfikir panjang, dengan bismillahirrahmanirrahim, aku menjawab, “Iyaa,
aku mau kamu ajak ta’aruf an.” Saat itu, aku melihat matanya berkaca – kaca.
Aku menerimanya sungguh bukan karena pelarian, bukan karena coba2, bukan karena
daripada gak nikah2, tapi aku menerimanya karena hatiku mantap, aku yakin dia
akan menjadi imam yang baik, menjadi bapak dari anak2 ku kelak, akan menuntunku
ke surga, akan mengajakku membina keluarga yang SAMARO.
Saat
ini, tepat kami 1 bulan menjalin hubungan, saling mengerti, saling menjaga,
saling berfikir ke depan dengan tujuan yang tulus dan serius atas nama Allah.
Semoga hubungan ini mendapat ridho dari Allah, dipermudah segala urusan jika
memang itu jalan Nya. Allah akan menghalalkan kami sebagai suami istri, kelak.
Aamin :)
Ketahuilah,
jodoh tak akan tertukar, jika memang Allah berkehendak, maka itulah yang
terjadi. Entah dia jodohku apa bukan, aku yakin akan di beri jalan yang
terbaik. Aamin :)
